Terkadang
Anda bingung sudah pantaskah bagi anak Anda untuk punya kamar sendiri.
Sebenarnya, tidak ada waktu yang tepat untuk anak Anda dibuatkan kamar tidur
sendiri atau tidur terpisah dari orang tuanya. Tetapi, lebih baik tidak
memisahkan tempat tidur anak dan orang tua ketika ia masih berusia kurang dari
2 tahun. Setelah, mencapai usia 2 tahun, biasanya anak sudah bisa merekam apa
saja kegiatan yang dilakukan orang tua dalam memorinya. Saat inilah yang tepat
untuk mulai mengajarkan kemandirian pada anak, salah satunya dengan tidur
terpisah. Demikian
pula dikatakan seorang psikolog, Rahmitha P. Soendjojo, yang menyatakan
kesiapan anak memiliki kamar tidur sendiri sangat tergantung pada kesiapan anak
tersebut untuk bertanggung jawab pada apa yang menjadi miliknya. Seringnya,
setelah berusia bawah tiga tahun anak akan lebih peka pada hak miliknya. Ia
mulai bisa membedakan mana hak miliknya dan mana punya orang lain. Proses ini
juga diikuti dengan keinginan sharing (berbagi) hak milik.
Saat
ini pilihan untuk terus bekerja didominasi karena alasan pemenuhan kebutuhan
ekonomi. Nah, bila efeknya kekurangan biaya hidup, tentu mau tidak mau harus
kembali bekerja. Hal pertama yang perlu
dilakukan adalah keyakinan hati untuk kembali bekerja. Jangan sampai ada
perasaan tidak nyaman, ketika meninggalkan si kecil di rumah. Jauh-jauh hari,
ibu harus sudah mempersiapkan orang yang bisa 'menggantikan' tugas anda selama
bekerja di kantor. Ini berarti, ibu harus mencari seorang pengasuh anak yang
tepat. Minimal, terlebih dahulu cari
informasi kira-kira adakah saudara dekat yang tidak bekerja dan bisa
mengasuh si kecil. Kalau memang tidak ada, bersiaplah untuk mencari seorang
pengasuh anak (baby sitter).
Melihat anak Anda yang tumbuh dengan sehat dan cerdas adalah kebanggaan bagi diri Anda. Kecerdasan atau IQ memang masih menjadi tolak ukur dalam menentukan kecerdasan logika matematika dan kemampuan berbahasa, namun keduanya baru menunjukkan cara kerja otak kiri. Padahal, otak kanan anak Anda juga berperan dalam keberhasilan anak tersebut. Seorang anak bisa mempunyai kecerdasan majemuk atau sebaliknya salah satu lebih menonjol dari yang lainnya. Untuk mengetahui kecerdasan mana yang bisa dikembangkan, sebaiknya Anda mencoba mengamati lebih cermat perilaku anak Anda tersebut.


